![]() |
| haruskah aku terus membalikkan diri ketika ada yang mendekati? |
Dengan ditemani lagu Terry- harusnya kau memilih aku dan paper paper yang berserakan di meja, ada keinginan yang menggebu untuk mengisi blog ini mengutarakan apa yang menumpuk pada benak. Percaya atau tidak percaya, sepertinya aku terjangkit penyakit remaja kekinian, galau. Haha #laughthard
Mendengar lagu ini sepertinya mengiris bagian terdalam dari sisi keperempuananku, ada keinginan yang menurut aku sendiri merupakan hal paling logis serta egois dari manusia yaitu berpasangan. Entah efek ingin menghindar dari bacaan membosankan ini, lagu yang terdengar meratap atau karena umur yang sudah mengerti seberapa menariknya lawan jenis (hello, I'm 22 now. puber teh zaman kapan? haha). Entah apa
Okay kembali pada pembahasan awal, apa ya? ah bingung, bagaimana cara mengutarakannya.
Empati yang tanpa sadar berubah menjadi rasa sayang, lalu secara gamblang muncul ide untuk memiliki. Dan betapa menyakitkan ketika kelogisan harus menyudutkan sebuah rasa hanya karena posisi yang tidak tepat, kondisi yang tidak memungkinkan, norma norma, zona yang terlalu nyaman untuk dilepas.
Bagaimana pun juga sebagai seseorang perempuan yang selalu mencoba mendahulukan kelogisan dibandingkan perasaan. Adalah masuk akal, jika sesuatu sesuai adanya. Toh tidak ada yang dirugikan, namun masih ada keuntungan yang tersisa di genggaman tangan (ah sungguh perhitungan). Bukankah ini adalah bisnis tanpa modal menguntungkan, tak perlu ada usaha lebih.
Lalu bagaimana jika perasaan itu makin lama makin jauh dari posisi ideal seharusnya, okay ganti bukan bagaimana lagi tapi ini sudah terjadi. Rasa cemburu yang muncul sama seperti ketika adik bayi lahir mencuri perhatian rumah, sedangkan diri sendiri terdorong pada sudut antrian panjang tak berujung hanya untuk mendapatkan pujian karena sudah melakukan hal benar. Kemudian memainkan peran sebagai seorang kakak yang baik, amanah, mandiri, patuh, tidak mempermasalah apa yang terjadi bahkan benar benar merasa tidak ada yang terjadi. Bumi berjalan dengan arah rotasi yang benar.
Lalu bagaimana jika setelah jauh perjuangan, ketika sudah menentukan waktu yang tepat menambah lembar pada tulisan. Ada kengganan untuk membalik karena masih merasa ada tulisan yang salah, yang harus dieja ulang, diperhatikan EYD-nya, penggunaan kata yang tidak. Entah benar kesalahan atau kesalahan yang dicari cari, menambah waktu untuk masih menikmati lembar lama.
Sebegitu susahnya kah? Bukan satu atau dua yang datang, lalu kenapa belum tergantikan? Bukankah kamu bukan apa apa? Tidak tampan, belum matang, belum mapan, wawasan sempit, dan sederetan kelemahan yang bisa dihimpun menjadi satu tulisan lagi, maha dahsyat haha.
Lalu kenapa tawa mu begitu ranyah ditelinga, kenapa gerakan pupilmu begitu asyik diperhatikan.
Terlalu banyak lalu, apakah ini semu?
Jika ini semu maka biarkan aku mendengar tawa lain, biarkan aku memperhatikan gerakan pupil yang lain. Bebaskan..
Nb:
Maaf untuk pupil-pupil yang tak teperhatikan, tak ada maksud. Aku sadar diri, bukan perempuan cantik rupa, bodi aduhai, wawasan maha luas, lurus hati berpandang, sikap senangkan rasa. Maka segeralah cari telinga bergeming akan tawamu, mata yang mengunci gerakan pupilmu.
peace, love, n gaul haha ending yang tidak khidmat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar