Jumat, 09 Mei 2014

Wae Rebo - Flores


                                    (Wae Rebo; segala sumber)
Salah satu surga Indonesia yang harus dikunjungi, ceritanya gw baca majalah lama temen gw -> majalah lama, pinjem lagi -> perlu di bold "gk modal"

Singkat cerita, jatuh cintalah daku pada Wae Rebo sejak bacaan paragraf pertama, surga Indonesia bro! . Dan anehnya Wae Rebo, bagai gadis desa yang suka bersembunyi di punggung bapaknya tapi terkenal sakali seantero luar negeri. malu aku jadi orang Indonesia, tak kenal surga sendiri. Okay, tak usah dipikirkan lagi, Wae Rebo lansung masuk list surga dunia yang wajib dikunjungi sebelum mati. He he..

Setelah keluar masuk blog web terpenjara dalam gua web blog, dihimpit batu sakti lompat kesana kesini... gw tahu ternyata nenek moyang Wae Rebo itu orang MINANG bro! minang! minang! -> gw mikir apa hal yang terjadi ampe nenek moyang gw bisa nyampe kesana! amazing! spectaculer! extracuriculer!


(9gag versi hijaber ha ha..)

Check this video man!!
and this

Apa aja yang harus kita tahu dari Wae Rebo? Check it out men !
  • Rumah adat Mbaru Niang, yaitu rumah adat khas suku Manggarai di dusun Wae Rebo Kabupaten Mangarai, Flores, NTT  ternyata dikasih penghargaan tertinggi (Award of Exellence) dari UNESCO Asia Pasific Awards 2012. Keren men!      
    (rumah Mbaru Niang; segala sumber)

    ‘Mbaru Niang’ atau ‘rumah drum’ dalam bahasa Manggarai,  adalah rumah melingkar berbentuk kerucut, bangunan semuanya dibangun dengan cara tradisional. Atap besar, terbuat dari ijuk, didukung oleh sebuah tiang kayu pusat. Dimana didalamnya terdapat perapian yang terletak di tengah rumah. Rumah seremonial – berbeda dalam ukuran dari bangunan lainnya adalah tempat di mana drum pusaka suci dan gong disimpan, dan di mana upacara dan ritual yang berbeda diadakan. Rumah ini adalah bangunan komunal, mengumpulkan delapan keluarga yang berasal dari nenek moyang yang sama di bawah atap yang besar. Strukturnya melambangkan kesatuan klan, dengan drum dianggap sakral media klan untuk berkomunikasi dengan nenek moyang.
  • Meski terkenal seantero luar negeri, ternyata turis pertama Indonesia itu adalah Yori dan teman temanya kelompok arsitek pada bulan Agustus tahun 2008. Miris men!

    Misi Yori Antar agar kekayaan arsitektur nusantara tetap terjaga kelestarian dan keberlanjutannya dan dari segi pembelajaran masuk ke dalam kurikulum pendidikan arsitektur diberbagai perguruan tinggi sambil membangun mindset baru.
    (Yori Antar)
    Pengen tahu lengkapnya Yori Antar, kunjungi ini bro :
    http://majalahasri.com/yori-antar-membangun-kembali-kekayaan-arsitektur-nusantara/

    Sejak 2002 Wae Rebo sudah rutin menerima kunjungan turis ataupun peneliti asing. Misalnya dari Prancis, Inggris, Amerika Serikat, Taiwan, ataupun negara-negara Eropa lainnya. Tercatat turis Belanda yang paling banyak mengunjungi Wae Rebo. Hingga 2009, tercatat 480 pelancong ke Wae Rebo dengan 9 orang diantaranya ialah orang Indonesia.
    Well, gw malu gw gk tahu ini
  • Ngomongin kultur budayanya, Wae Rebo adalah daerah aman ama ramah men!

    Di buku “Pesan dari Wae Rebo”, Guru Besar Arsitektur Universitas Indonesia Profesor Gunawan Tjahjono nulis, kalo tata letak rumah-rumah di dusun Wae Rebo ternyata sama sekali nggak nunjukin kalo dusun ini pernah terlibat perang. Peace man!

    Dusun ini beda banget sama kebanyakan sistem desa tradisional di Indonesia yang biasanya make pola pertahanan desa. Terus ternyata masyarakat Wae Rebo  juga gk kenal ama yang namanya persenjataan kecuali buat nanem -> cocok tanam. Peace banget man!
    Masyarakat disini juga relatif ramah dan bersahabat ama pelancong. Ngasingin diri tapi tetep open ama tamu.
    Lengkapnya lu liat blog ini : 
  • Go to Wae Rebo! Go go!
    (labuan bajo;segala sumber)
    Penerbangan bisa dimulai dari Bali atau Lombok ke Labuan Bajo. Labuan Bajo merupakan destination awal kalo lu pada mau ke Wae Rebo. Sebenernya ada satu lagi destinasi awal yaitu ruteng, ibukota kabupaten Manggarai. Ada penerbangan langsung ke Ruteng dari Denpasar, hanya saja tidak setiap hari. Lebih mudah untuk ke Labuan Bajo terlebih dahulu baru dilanjutkan menggunakan bus atau travel menuju Ruteng.
    Terus lanjut ke Dintor, Labuan Bajo-Dintor biasanya butuh 5 jam perjalanan darat. Dintor itu terletak di pantai yang menhadap pulau Mules. Wasyik!
    Karena jalanan aspalnya lumayan sempit, Cuma cukup 2 mobil. Lumayanlah!
    Setelah 1 jam perjalanan, kita nyampe ke desa Denge, baru deh Wae Rebo!

    Sedangkan untuk transportasi dari Ruteng ke Denge atau Dintor (Dintor adalah desa di dekat Denge) tidak banyak.
    1. Bemo, semacam angkot, tidak beroperasi setiap hari.
    2. Oto kayu, beroperasi setiap hari, truk yang bagian bak belakangnya disulap dengan papan-papan untuk tempat duduk penumpang. Oto kayu ini pun hanya ada dua (kadang cuma satu) yang beroperasi. Berangkat dari Terminal Mena di Ruteng sekitar jam 9 sampai 10 pagi. Sampai di Denge sekitar jam 2 siang.
    3. Ojek,  beroperasi setiap hari, tapi harus siap terjaga selama perjalanan.
    Buat perjalanan ke Wae Rebo kita perlu trekking 4-5 jam di hutan. Trekking juga sebaiknya dilakuin pagi-pagi bro, karena sekitar 3-4 kilometer perjalanan awal nggak ada pohon rindang. Jadi kalo trekking siang hari bakal panas banget bro. tpi juga gk boleh malam bro soalnya trek yang bakal dilalui -> tanah labil dan rawan longsor. so bakal bahaya banget.
    Eng ing eng, setelah menmpuh bahaya bro, lu bakal nemuin surga dunia penuh senyuman bro, kebayar deh semua. oh ya karena Wae Rebo ada diketinggian 1100 m di atas permukaaman air laut, jadi dusun ini lumayan dingin juga bro. Siapin baju hangat!

    Atau lengkapnya lu tinggal kunjungi :

    atau bisa kunjungi ini :

  • Kocek kocek yang perlu disiapin di Wae Rebo

    Ada biaya administrasi -> siapin kocek bro!
    ada beberapa kesepakatan diantara Masyarakat disana yang menetapkan Biaya Admistrasi, Dimana pengelolaan uang tersebut ternyata untuk biaya bahan makanan dan memasak makanan yang dibuat oleh para ibu serta pemeliharaan infrastruktur kampung seperti bahan bakar genset dan sumber air.  Secara berkala, hasil pengumpulan biaya administrasi itu akan dibuka bersama-sama oleh masyarakat dan diumumkan jumlahnya serta dibagi untuk pengelolaan kampung.

    Biaya buat menginap bro -> siapin kocek lagi!
    Biaya menginap di rumah adat Wae Rebo adalah Rp 225,000/orang sudah termasuk tiga kali makan. Jika tidak menginap, maka tamu dapat membayar Rp 100,000. Yang tidak boleh dilupakan adalah setiap tamu yang datang ke Wae Rebo harus melalui upacara Waelu. Dimana para tetua adat akan memohonkan ijin pada para leluhur untuk menerima tamu serta memohon perlindungan hingga sang tamu meninggalkan kampung dan kembali ke tempat asalnya.
    Siapkan uang 20ribu/rombongan atau seikhlasnya sebagai sesaji.
     
    trus juga info dari om om yg udah kesana juga ini nih, kocek yang perlu disiapin.

    Travel Labuan Bajo – Ruteng : 70 ribu (4-5 jam)
    Oto kayu Ruteng – Denge/Dintor : 30 ribu (4 jam) dari Ruteng sekitar jam 9-10 pagi. 
    Dari Denge/Dintor – Ruteng oto kayu start pagi-pagi sekali dari jam 3-5 pagi
    Ojek Ruteng – Dintor/Denge : 150ribu-200ribu
    Homestay Wejang Asih : 175 ribu/hari/orang dapat makan selama tinggal
    Guide/porter ke Waerebo (wajib) : 150ribu

    kunjungi :
    http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/09/27/flores-tips-mengunjungi-wae-rebo-490970.html

    Men, klo lu gk punya duit sekarang nabung!! kunjungi surga2 dunia di tanah lu sendiri, punya bangsa lu sendiri!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar