Jumat, 30 Mei 2014

Villa Caheum Mak Wo Jerman


Villa tampak depan

Rindu begitu rindu, sejuk tenang damai entah rasa apa lagi yang hendak tuan tawar? . Rindu akan balkon, kursi goyang, atau jendela dg pemandangan ladang penduduk sekitar. Aaah, andai dapat kembali kesana. Betapa sayang tak begitu banyak foto kenangan. Bagaimana mungkin, daku dapat memalingkan mata hendak melakukan hal lain, biarlah hati menikmati derasnya kenangan.

     
Ruang Tamu
Bagaimana daku memulai cerita, sedangkan dirimu tak menikmati bersama daku. Biarlah kujelaskan sedikit foto yang kusimpan, yang tentu saja bukan daku yang mengambil.
Pada dasarnya villa ini hanya terdiri dari 3 lantai atau lebih tepatnya 3 undakan. Bagaimana mungkin daku menganggap ini 3 lantai sedangkan ruang begitu lekat. Ruang tamu ini berada pada undakan 2, setelah masuk perkarangan serta garasi. Ketika pintu terbuka, ruangan inilah yang akan ditemui. Ruang tamu dengan furniture vintage, kursi rotan dengan motif bantal bunga, serta beberapa lukisan yang tak tertangkap kamera.
 
Tangga ke undakan 3
Mari daku jelaskan undakan 3, tangga tak begitu tinggi. Tangga kayu yang jika kau hentakan kaki dengan anggun maka akan terdengar suara indah menghangatkan hati mengingatkan tentang rumah istirahat.
 
Pinggir Jendela
Salah satu tempat daku banyak menghabiskan waktu, entah berapa buku yang kuhabiskan disana, menikmati hangatnya mentari, romantisnya senja, atau ketenangan malam dan kelip lampu rumah penduduk dari kejauhan tentu saja dengan secangkir kopi dengan asap yang mengepul janji kenikmatan.
Ah sayang sekali tak ada foto balkon, kamar serta  kamar mandi, tentu dengan furniture kayu, jendela; dinding serta langit langit yang unik, bath up serta keramik yang sudah tua.
Mari kita ke bawah ke undakan 1.
 
Tangga ke bawah
Tampak kawan? Disana daku dan sepupu biasanya berkumpul, salah satu tempat berkumpul tentu saja tak kalah dengan meja makan, balkon dan taman belakang.
Lapangan basket, diambil dari kamar undakan 3
Ini diambil dari jendela kamar daku, undakan 3. Biasanya para jantan itu ketika perutnya kenyang berlari berebut bola hendak dimasukkan pada ring kecil nun diatas sana. Maka ketika daku dimasukkan dalam tim, dan daku merasa permainan ini menyebalkan. Maka daku berjalan keujung, sedikit mendaki. Maka ada kesenangan menanti.
Taman Belakang
Ada ayunan! karena hanya daku yang bertubuh munyil. Hanya daku yang menaiki ini, daerah kekuasaan. 
Ah kerinduan tak berujung, dengan foto tak seberapa. Ketika tubuh kembali ingin menyentuh, ketika hati ingin merasa, ketika pikiran ingin ditenangkan. Apa mau dikata
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar