Kamis, 09 April 2015

Alergi ini, sungguh

          Alergi ini mulai menyebalkan, kemunculannya mulai mengganggu aktivitas saya. Tak tertahankan, begitu banyak scene yang berseliweran ketika hal ini terjadi. Anehnya alergi ini begitu sering muncul ketika saya harus bersiap siap menghadapi sidang kuliah. Yang awalnya hanya muncul sebulan sekali ketika tubuh saya sedang tidak fit. Sekarang seperti 4-5 kali seminggu. Oh my god, so annoying

          Tak terbayangkan harus seminar kemajuan dalam keadaan kulit merah menahan gatal dan hawa panas. itu bagian epic pertama dalam kisah nelangsa ini. Belum lagi harus menjawab pertanyaan pertanyaan muncul ketika seminar, menahan rasa gatal dan tidak menggaruk, mengikhlas diri menjadi bahan lelucon, berpikir kapan pulang, ingin ganti baju dengan yang nyaman, selimut hangat dan wangi, teh yang menenangkan, bangun lalu kembali melanjutkan dunia. Saya hanya mampu tersenyum kawan, hidup harus berlanjut.

          Setelah semua yang terjadi, saya terima. Saya jalani semuanya dengan rasa yang ringan, pasrah, nerimo. Sadar ini bukan hal yang harus di protes, hal yang sebaiknya saya ambil positipnya. Bahwa imun saya begitu berkerja keras melindungi saya dari marabahaya penyakit. Tahu bahwa induk semangnya dalam keadaan lemah di kuat kuatkan. Luar biasa, maha besar Allah swt. Dengan segala teka teki indah, misteri perancangan alam.

          Baik, di catatan awal saya menerima hal ini terjadi. kembali ke kisah epic kedua yaitu hari ini. Hahaha, saya harus kembali tertawa. Warna kemerahan ini muncul kembali tanpa izin. 

            Saya akui hari ini saya lelah, 2 malam sebelumnya rasa pusing hebat melanda membuat saya tidak bisa belajar untuk seminar jurusan hari ini. Alhamdulillah, dengan persiapan yang tidak maksimal itu seminar berjalan lancar. Saya bisa presentasi dengan baik dan menjawab pertanyaan dengan tenang meski ada 1-2 pertanyaan yang harus saya jadikan PR untuk sidang. Karena jawabannya yang belum memuaskan dosen penguji. Tak apa, saya malah senang. Presentasi hasil penelitian saya menjadi diskusi menarik tadi di kala seminar. Menjadi cambuk bagi saya untuk jadi lebih baik, menjadi lebih faham tentang keindahan keindahan misteri tuhan lewat jalan science.

          Semuanya tak jadi masalah, setelah selesai seminar saya sadar mulai muncul gejala bintik merah di lengan. Mungkin panas, atau saya lelah karena sedang berpuasa atau saya stress menghadapi pressure seminar(catatan : saya selalu tersenyum dan tertawa mendengar guyonan teman teman dan dosen hari itu, sebelum, sedang,bahkan setelah. mungkinkah?). Saya masih mempersiapkan syarat syarat sidang. Dan rencananya malam ini saya akan membuat pas photo prasyarat sidang. Biarlah hanya merah sedikit.

          Pulang, gejala bintik merah masih terlihat. Mungkin jika saya tidur barang 1-2 jam, bekas bintik merah ini akan menghilang, biasanya juga begitu. Alhasil saya tidur pulas tanpa paksaan sore ini, karena badan saya sudah meronta ronta minta istirahat. Kemudian bangun menjelang magrib, dengan keadaan kamar yang sudah gelap. Membuat saya harus duduk diam, meresap semua ingatan. sayang sedang dimana, hari apa, sudah melakukan apa, apa yang mau dilakukan. Dan oh tidak, saya merasakan rasa gatal di area bibir, bibir terasa agak lebih berisi dari biasanya( baiklah ini agak aneh, saya mempunyai kebiasaan menggigit bibir ketika harus menimbang atau memahami suatu keadaan). Rasa gatal di beberapa titik tubuh pun, mulai saya rasakan. Ternyata si bintik merah tidak menghilang ketika saya tidur. Dia malah berkelana di tubuh saya. Membuat saya harus menggagalkan rencana untuk foto "pas photo" hari ini. Bagaimana mungkin foto ijazah saya harus di isi dengan muka merah sembab yang tidak cantik sama sekali. Ini bisa jadi lelucon seumur hidup bagi saya. Aaaah saya harus kembali tersenyum, kesal bukan jawaban apalagi marah. Aaah tarik nafas dalam hehehe

Kamar yang berantakan

Catatan : ada scene yang menyedihkan terakhir yang saya ingat tentang alergi ini, tidak mau terlupa padahal saya ingin. Menjadi bahan tertawaan teman itu sudah biasa, bukan masalah buat saya, saya ikhlas, saya anggap itu sebagai pekerjaan amal untuk menghibur teman teman saya. Tapi ini entah mengapa, tidak terlupa, bukan rasa kesal, tidak, hanya rasa sedih.

Di perjalanan angkot, dari sebuah bukit. Bintik itu muncul kembali, tubuh saya lelah, jam tidur yang tidak cukup, nafsu makan yang menurun. Bintik itu muncul karena perubahan cuaca dari dingin nya bukit menjadi hangatnya pemukiman warga. Sebuah pertanyaan muncul dari kawan : " apakah bintik merah itu menular?" dengan pandangan jijik. Saya tidak marah, saya tidak kesal. Hanya rasa sedih dan membekas
Semoga saya lekas memaafkan perasaan sedih saya, menerima segala hal. Lalu kembali tersenyum, karena masih ada hari esok yang harus dijalani 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar